aksara-di-nusantara-4105.jpg

MEJAN

MEJAN.

Jenis : Arca Batu
Nama : PROFIL DARI PEMIMPIN ADAT (MEJAN)
Asal : Barus, Sumatera, Indonesia
Budaya : Batak, Toba
Era : Abad Ke-19
Material : Batu
Dimensi : 87 cm (tinggi)

Keterangan :

Patung suci mejan adalah pengarcaan tokoh terkenal, seringkali dengan peran bersama kepala desa (raja) dan dukun adat (datu) yang terpahat hanya oleh Pakpak Selatan (yang mungkin diciptakan mereka), Toba barat (kelangkaan yang ‘pasangan’ – penunggang kuda dan wanita duduk – pernah terlihat di Pulau Samosir) dan Simalungun, dimana penampilan mereka sangat berbeda dengan yang satu ini.

Seorang peneliti melakukan studi lapangan beberapa antara tahun 1974 dan 1998 untuk mengidentifikasi gaya tertentu khusus untuk arca dukun adat (datu panggana) dari Pakpak, Simsim, Pakpak Kalasan (sebelumnya tidak diketahui) dan sub kelompok Toba Barat. Arca batu yang disucikan (mejan) yang menggambarkan pemimpin adat biasanya disertai dengan arca istri-istri mereka, digambarkan duduk, telanjang atau yang sudah memakai sarung.

Pemimpin adat digambarkan menunggangi seekor Singa, sebuah rakasa mitologis mewakili dewa dunia bawah tanah, Raja Padoha (atau Naga Padoha), semacam ular bertanduk raksasa. Garis-garis yang mengalir pada arca ini (menggambarkan istri raja ini, yang peringkat dibuktikan dengan ban pada lengannya) khusus untuk wilayah pegunungan antara pantai dan Pusuk, di mana benzoin dan kamper yang pernah membuat keberuntungan bagi Barus telah diproduksi sejak jaman purbakala. Gaya Barus dataran tinggi yang tidak tersaingi berasal dari yang dari Kalasan Pakpak, yang dipisahkan dari Simsim Pakpak oleh pegunungan dan diselingi di wilayah Toba barat. Kaum mereka (kurang dari selusin) semuanya didirikan oleh seorang pemimpin adat dari marga Toba.

Namun demikian, mereka mengklaim (seperti Simsim Pakpak) telah menerima, sekitar lima puluh generasi (empat sampai lima ratus tahun) yang lalu, ajaran dari orang tua bijak dari India disebut Guru Kalasan, yang mengajarkan mereka untuk mengkremasi mereka yang mati. Jadi sarkofagus besar bukannya berisi tulang belulang dari leluhur Toba dan Simalungun, mereka memiliki guci kecil untuk abu jenazahnya, yang ditempatkan di depan patung berkuda, akan tetapi telah banyak yang menghilang. Kadang-kadang yang ditunggangi dalam arca pemimpin adat berupa kuda atau gajah. Dalam arca ini, itu adalah Singa, dikenali oleh lidah panjangnya yang melengkung, yang oleh beberapa wisatawan awal dikira batang.

Koleksi :
BARBIER-MUELLER MUSEUM OF GENEVA
Rue Jean-Calvin, 10, 1204 Genève
Object ID: INV. 3137
Acquired from Emile Deletaille in 1979
Jean Paul Barbier-Mueller
Arts of Africa and Oceania.
Highlights from the Musée Barbier-Mueller, musée Barbier-Mueller & Hazan (eds.), 2007: p. 258.

Sumber:
(wilwatiktamuseum.wordpress.com)

Admin: Kutjing (^_^)

#AksaraBatak
#SuratBatak
#aksaradinusantara

1 2 3 61